EMAIL US AT info@ie2i.or.id
CALL US NOW
DONATE NOW

Indonesia Dapat Mengurangi Sampah Plastik dan Mencapai Sustainability

Oleh : Satya Hangga Yudha Widya Putra, B.A. (Hons), MSc.
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 262 juta orang dan 17.000 pulau. Selebihnya perairan Indonesia sekitar 6 juta kilometer persegi dan lebih dari 91.000 kilometer garis pantai. Negara kita menampung 75% dari semua kehidupan yang ada di dalam laut, 23% dari total hutan bakau yang ada di dunia, dan 30.000 kilometer persegi rumput laut.
Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5% setiap tahun dan bonus demografi yang akan mencapai puncaknya pada tahun 2030 masyarakat Indonesia mengkonsumsi lebih dari 1 juta kantong plastik setiap menit.
Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa kita adalah penyumbang terbesar ke-2 limbah laut, setelah negara Cina. Setidaknya, 80% sampah plastik berakhir di laut yang berasal dari saluran air seperti sungai. Indonesia menyumbang 200.000 ton plastik. Sungai Brantas, Bengawan Solo, Serayu, dan Progo termasuk 20 sungai yang paling tercemar di dunia.
Indonesia menghasilkan 65 juta ton sampah setiap tahun. Dimana 14%, atau 9 juta ton, terdiri dari plastik. Sekitar 1,3 juta ton sampah plastik dihasilkan setiap hari di seluruh Indonesia, dan ini telah menjadi ancaman terhadap ekosistem laut karena limbah laut mengancam perikanan dan terumbu karang yang bisa menimbulkan dampak negatif terhadap wisata bahari.
Pada hari Jumat tanggal 7 Juli 2017 di Leaders Retreat, G20 Summit di Hamburg-Jerman, Presiden Joko “Jokowi” Widodo, menyatakan, bahwa pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi limbah hingga 30% pada tahun 2025 dan mengurangi sampah laut sebesar 70% pada tahun 2025. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, telah mengatakan bahwa pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengalokasikan $1 miliar setiap tahun untuk mengurangi jumlah sampah plastik.
Sampah plastik mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan karena sampah plastik dapat membunuh hewan laut yang mengakibatkan hewan laut tersebut terjerat dan tenggelam. Partikel plastik yang berasal dari sampah plastik secara tidak sengaja bisa dikonsumsi hewan laut ketika hewan tersebut makan, dan partikel plastik ini tidak dapat dicerna. Racun yang terdapat dalam partikel plastik otomatis akan masuk ke dalam tubuh kita jika kita mengkonsumsi ikan tersebut.
Untuk mengatasi limbah plastik, masyarakat harus mencoba untuk menerapkan strategi pengelolaan limbah sampah khususnya plastik di rumah masing-masing dan memaksimalkan upaya dalam mengurangi ketergantungan pada plastik sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak di Indonesia yang sering menggunakan kantong plastik, sedotan, botol, gelas, dan lain-lain. Sebagai pengganti, masyarakat bisa membeli dan menggunakan tas yang dapat digunakan kembali dan minum tanpa menggunakan sedotan.
Alangkah baiknya jika setiap komplek perumahan menyediakan bank sampah di mana penduduk setempat dapat menyerahkan sampah plastik dan semua sampah yang bisa didaur ulang kepada bank sampah dengan imbalan uang tunai. Limbah yang dikumpulkan harus dibagi menjadi 2 bagian yaitu sampah organik dan non-organik.
Sampah organik diubah menjadi kompos, sedangkan sampah non-organik dikirim ke pabrik-pabrik daur ulang dan dipisahkan menjadi 4 kategori yaitu plastik, kertas, botol, dan logam. Mendaur ulang sampah adalah cara yang paling layak dan efisien dalam mengatasi bertambahnya limbah plastik sehingga tercapailah ekonomi berkelanjutan.
Indonesia juga harus mendorong kerjasama antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk berkomitmen dalam mengatasi limbah plastik dengan cara mendidik dan mensosialisasikan kepada masyarakat tentang dampak negatif yang ditimbulkan oleh limbah plastik terhadap lingkungan.
Peran penting dari masyarakat luas yang bertujuan untuk mengurangi sampah plastik harus didukung oleh pemerintah daerah maupun pusat.
Salah satu cara untuk meminimalkan penggunaan kantong plastik dengan jalan mengenakan biaya untuk setiap pemakaian kantong plastik di toko-toko atau supermarket. Dengan cara tersebut pemerintah Indonesia dapat menurunkan penggunaan kantong plastik, sampah plastik, dan meningkatkan pendapatan negara. Membuat undang-undang yang tepat akan dapat membantu Indonesia dalam mengurangi penggunaan plastik.
Pemerintah juga dapat menggunakan media sosial untuk mensosialisasikan kesadaran akan pentingnya mengelola limbah plastik mengingat masyarakat Indonesia sangat aktif berkomunikasi melalui media sosial.
Agar dapat mengurangi limbah plastik dan mencapai target pemerintah, pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memperketat dan memperkuat kerangka hukum yang berkaitan dengan hal tersebut diatas. Sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia tentang cara pembuangan sampah yang benar dan mempromosikan perubahan gaya hidup yang dapat mengurangi penggunaan plastik. Indonesia membutuhkan kebijakan yang membuat plastik lebih mahal dan aturan-aturan yang akan mendorong perusahaan untuk mendaur ulang sampah plastik.
Masyarakat Indonesia juga harus membuang sampah di tempat yang benar, mendaur ulang, dan memilih produk yang dapat digunakan kembali dan membantu mengatasi limbah plastik. Dengan melakukan semua ini, Indonesia dapat mencapai masa depan yang sustainable di mana Indonesia bisa memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Penulis adalah Satya Hangga Yudha Widya Putra, B.A. (Hons), MSc. Hangga adalah Co-Founder Indonesian Energy and Environmental Institute (IE2I) dan Penerima Beasiswa LPDP (PK-51).
Source: 
https://kumparan.com/suarabanyuurip/indonesia-dapat-mengurangi-sampah-plastik-dan-mencapai-sustainability-1525079689505
http://www.suarabanyuurip.com/kabar/baca/indonesia-dapat-mengurangi-sampah-plastik-dan-mencapai-sustainability

satya hangga

VIEW ALL POSTS

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *