EMAIL US AT info@ie2i.or.id
CALL US NOW
DONATE NOW

Harga tak Menarik, Jangan Harap EBT Lari Cepat

INILAHCOM, Jakarta – Pendiri Indonesian Energy and Enviromental Institute (IE2I), Satya Hangga Yudha Widya Putra, mengatakan, harga jual energi baru dan terbarukan (EBT) seharusnya bisa kompetitif.

Kalau tidak, jangan harap perkembangan EBT bisa berlari cepat di tanah air. Alhasil, ketergantungan terhadap energi fosil seperti batubara dan gas, tak terbendung.

Hal itu disampaikan Hangga Yudha dalam acara 23rd Conference of Parties (COP23) di Bonn, Jerman, belum lama ini, seperti disampaikan dalam rilisnya di Jakarta, Selasa (21/11/2017).

Hangga Yudha mendorong pemerintah lebih konsisten dalam mengembangkan EBT di tengah semakin tingginya kebutuhan energi di masyarakat. “Tantangan dalam memanfaatkan EBT adalah harga jualnya yang sulit bersaing dengan energi konvensional seperti batubara dan gas. Padahal energi terbarukan penting untuk menjaga ketahanan energi di masa mendatang,” kata Hangga Yudha.

Selain itu, Hangga Yudha yang menjadi pembicara dalam topik Re-konfigurasi Bisnis Berbasis SDA untuk Menghadapi Tantangan Baru, adapula mantan Menko Maritim Dwisuryo Indroyono Soesilo, Manajer Sosial Chevron Indonesia Pinto Budi Bowo Laksono, dan Manajer Lingkungan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) Jorina Waworuntu.

“Pemanfaatan EBT tidak bisa ditunda-tunda, karena Indonesia menjadi negara yang meratifikasi Paris Agreement, yaitu komitmen mengurangi emisi karbon dalam menjaga perubahan iklim global. Saat ini, kita masih bergantung dari energi fosil yang semakin lama semakin mahal dan terbatas. Karena itu, kita dorong pemerintah untuk lebih konsisten memberikan porsi bagi pengembangan EBT ke depan,” papar Hangga Yudha.

Peraih gelar master dalam bidang kebijakan energi dan lingkungan dari New York University (NYU) tersebut meyakini EBT akan menjadi sumber energi masa depan. Sebab, Indonesia memiliki potensi sumber daya energi baru terbarukan cukup besar seperti panas bumi (geothermal), mikrohidro, angin, dan matahari.

Hanya saja, lanjut Hangga, harga jual dari energi EBT dinilainya masih belum kompetitif mengingat masih lebih tinggi dibanding energi yang berasal dari fosil seperti batubara maupun gas.

“Pengembangan EBT juga harus dibarengi dengan semakin ekonomisnya harga jual. Oleh karena itu, kita perlu monitor Peraturan Menteri ESDM No 50/2017, apakah regulasi ini masih menarik minat investor untuk mengeksplorasi potensi cadangan energi baru terbarukan atau sebaliknya. Karena selama harga EBT masih di atas harga energi fosil, maka EBT tidak akan bisa berkembang secara optimal,” jelasnya.

Sementara, Indroyono yang menjadi Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), membeberkan, mulai adanya transformasi bisnis di kalangan pelaku industri kehutanan di Indonesia saat ini dalam menghadapi tantangan perubahan iklim

Termasuk juga kesadaran anggota APHI untuk melakukan antisipasi dini terjadinya kebakaran hutan dan lahan. “Kami merekonfigurasi bisnis dengan mengembangkan `agroforestry`, ekowisata, jasa lingkungan seperti penyerapan karbon, bioenergi dan mengoptimalkan produk kayu. Kami bekerja sama dengan semua pihak untuk menanggulangi bencana kebakaran hutan dan lahan,” ujar Indroyono. [tar]

URL: http://m.inilah.com/news/detail/2419638/harga-tak-menarik-jangan-harap-ebt-lari-cepat

satya hangga

VIEW ALL POSTS

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *