EMAIL US AT info@ie2i.or.id
CALL US NOW
DONATE NOW

Ekowisata Maratua Hadir dalam Forum COP23 di Bonn

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Listya Sekar Siwi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Maratua Ecotourism for Sustainable Small Island (MESSI) Program atau Program Ekowisata Maratua untuk Pulau-Pulau Kecil Berkelanjutan, mendapat sambutan hangat dan menjadi bahasan menarik dalam salah satu sesi seminar di forum Conference of the Parties 23 (COP23) di Bonn, Jerman, Selasa (14/11/2017).

COP23 merupakan sebuah forum konferensi tentang perubahan iklim yang diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Forum ini diselenggarakan di Bonn, Jerman, pada tanggal 6-17 November 2017.

Direktur Komunikasi dan Penggalangan Sumber Daya KEHATI, Fardila Astari, yang hadir di forum COP23 di Bonn, Rabu (15/11/2017), mengatakan, ada seleksi yang ketat untuk menentukan sebuah program dapat dipresentasikan di forum COP23. Program MESSI lolos dalam seleksi sehingga dapat menjadi salah satu program yang diusung oleh Paviliun Indonesia di konferensi tersebut.

“Program MESSI dinilai sebagai salah satu program kolaborasi yang sangat baik antara pemerintah, non-governmental organizations (NGO), dan sektor swasta,” ujar Fardila dalam rilis yang diterima tribunpontianak.co.id, Rabu (15/11/2017).

MESSI merupakan program untuk mewujudkan desa sejahtera secara ekonomi, sosial, dan lingkungan yang berkelanjutan melalui desa lestari, yang memadukan ekowisata dan kampung nelayan yang produktif di Kepulauan Maratua, Kalimantan Timur, yang merupakan salah satu gugusan pulau terluar di Indonesia. Maratua berada di dalam zona segitiga terumbu karang terkaya di dunia, yang diperkirakan dihuni lebih dari 600 spesies. Program ini merupakan kolaborasi antara Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), PT Chevron Indonesia, pemerintah pusat dan daerah, serta masyarakat Maratua.

Di forum COP23, program MESSI dipresentasikan oleh Manager Social Performance Chevron Indonesia, Pinto Budi Bowo Laksono, dalam sesi seminar dengan tema “Reconfiguring Natural Resource Based Business to Address New Challenges”. Tema ini mengeksplorasi tentang rekonfigurasi ulang pemanfaatan sumber daya alam untuk kebutuhan bisnis dengan tetap memperhatikan aspek perubahan iklim.

Di samping Pinto, hadir pula sebagai pembicara antara lain: Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo,; Manajer Lingkungan PT Amman Mineral Nusa Tenggara Jorina Woworuntu; dan perwakilan dari Indonesia Energy and Environmental Institute (IE2I), Satya Hangga Yudha Widya Putra. Selaku moderator adalah Penasihat Senior Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr Soeryo Adiwibowo.

Lebih jauh, Fardila mengatakan, program MESSI telah turut membantu mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam dengan memberikan nilai tambah melalui usaha ekowisata berbasis masyarakat tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama mereka sebagai nelayan.

“Dengan kegiatan ekowisata, warga di Maratua turut ambil bagian dalam pelestarian lingkungan dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Karena, hanya dengan lingkungan yang lestari mereka dapat mempertahankan kelangsungan ekowisatanya. ” kata Fardila.

Manajer Program Ekosistem Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KEHATI, Basuki Rahmad mengungkapkan, dalam program ini, selain membangun sarana dan prasarana utama untuk ekowisata, Yayasan KEHATI didukung oleh PT Chevron Indonesia juga menjalankan kegiatan peningkatan kapasitas sumber daya masyarakat setempat.

“Selain itu, dilaksanakan pula standarisasi kegiatan usaha ekowisata, khususnya wisata selam sesuai dengan standar keamanan dan kenyamanan internasional,” lanjut Rahmad.

Sebuah pusat wisata selam (dive center) telah dibangun sejak tahun 2016 silam. Keberadaan dive center ini mendorong tumbuhnya penginapan-penginapan (homestay) yang dikelola masyarakat di Maratua. Penginapan-penginapan tersebut dikelola oleh para perempuan. Dari hasil pengelolaan penginapan tersebut, sekitar 200 keluarga di Desa Bohe Sellian, Maratua, mendapatkan manfaat berupa tambahan pendapatan hingga Rp 1,2 juta per bulan.

“Dengan meningkatnya kesejahteraan dari ekowisata, masyarakat khususnya nelayan tak lagi tergoda menggunakan cara-cara yang dapat merusak lingkungan dalam kegiatan ekonominya mereka, misalnya menggunakan bom ikan,” tandas Rahmad.

URL: http://pontianak.tribunnews.com/2017/11/15/ekowisata-maratua-hadir-dalam-forum-cop23-di-bonn

satya hangga

VIEW ALL POSTS

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *